Batas wilayah Kota Yogyakarta Kota Yogyakarta berkedudukan sebagi ibukota Propinsi DIY dan merupakan satu-satunya daerah yang berstatus kota di samping 4 daerah lainnya yang berstatus kabupaten. Kota Yogyakarta terletak di tengah-tengah Propinsi DIY. Sebelah utara Yogyakarta berbatasan dengan Kabupaten Sleman, sebelah timur bebatasan dengan Kabupaten Sleman dan Kabupaten Bantul, sebelah selatan berbatasan dengan Kabupaten Bantul, dan di sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Bantul dan Kabupaten Sleman. Wilayah Kota Yogyakarta terbentang antara 1100° 24° 19° sampai 1100° 28° 53° Bujur timur dan 7° 49° 26° sampai 070° 15° 24° Lintang Selatan dengan ketinggian rata-rata 114m di atas perumukaan laut.
Secara garis besar Kota Yogyakarta merupakan dataran rendah di mana dari barat ke timur relative datar dan dari utara ke selatan memiliki kemiringan ±1°, serta terdapat 3 (tiga) sungai yang melintas Kota Yogyakarta yaitu sebelah timur Sungai Gajah Wong, bagian tengah Sungai Code, dan di sebelah barat Sungai Winongo.
Kota Yogyakarta memiliki luas wilayah tersempit dibandingkan dengan kabupaten lainnya, yaitu 32,5KM2 yang berarti 1,025% dari luas wilayah Propinsi DIY dengan luas 3.250 hektar tersebut. Kota Yogyakarta terbagi menjadi 14 Kecamatan, 45 Keluarahan, 617 RW dan 2.531 RT.
Keberadaan Kota Yogyakarta tidak dapat terlepas dari berdirinya Kraton Kasultanan Yogyakarta pada tahun Jawa 1682 atau 1756 M yang tersirat dalam candrasengkala memet : Dwi Naga Rasa Tunggal. Perjanjian Giyanti atau Palihan Nagari disepakati pada 13 Februari 1755. Sehari sesudahnya Pangeran Mangkubumi resmi bergelar “Kanjeng Sultan Hamengkubuwana Senapati Ing Ngalaga Ngabdurrahman Sayyidin Panatagama Kalifatullah Ing Ngayogyakarta Hadiningrat Ingkan Jumeneng Kaping Pisan” (Sri Sultan Hamengkubuwana I). Selama menunggui pembangunan fisik kraton, Sri Sultan HB I bertempat tinggal sementara (mesanggrah) di Pesanggrahan Garjitowati, Ambarketawang. Pada hari Kamis Pahing, 13 Syura-Jimakir 1682 tahun Jawa atau 7 Oktober 1756 M, Sri Sultan HB Imulai menempati kraton baru. Sejak itulah kehidupan sebuah kota mulai tumbuh. Nama Ngayogyakarta atau Yogyakarta sendiri diambil dari kata “Ayodya”, nama kerajaan Prabu Sri Rama dalam babad Ramayana. Tanggal 7 Oktober 1756 selanjutnya ditetapkan sebagai Hari Jadi Kota Yogyakarta melalu Peraturan Daerah Kota Yogyakarta No. 6 Tahun 2004.
Keberadaan Kraton Yogyakarta dan Pura Pakualaman membuat Kota Yogyakarta dipandang sebagai salah satu pusat budaya Jawa. Di Kota Yogyakarta masih banyak ditemui warisan budaya, baik bersifat fisik/bendawi (tangible) maupun yang bersifat non fisik/non bendawi (intangible)
Warisan Budaya Fisik di Kota Yogyakarta 1. Alam : Sungai, pepohonan (vegetasi), lanskap (saujana) di Kota Yogyakarta 2. Ragam bangunan 3. Toponim (Penamaan bangunan, jalan dan kampong) 4. Kendaraan Tradisional
Warisan Budaya Non Fisik di Kota Yogyakarta 1. Kesenian dan Kerajinan 2. Upacara Adat 3. Pranata Sosial 4. Senjata/Pusaka
Begitu banyak warisan budaya yang ada menjadikan kota Yogyakarta bak bunga indah yang mekar dan harum mewangi sehingga menarik perhatian para pendatang dari luar untuk menghisap sari madunya. Akankah kota Yogyakarta tetap lestari dan terjaga keindahan dan harumnya, ataukah dibiarkan menjadi layu dan kering kerontang? Semua jawaban berpulang kepada komitmen seluruh warga Kota Yogyakarta sendiri. Melalui sekelumit informasi di atas, Pemerintah Yogyakarta ingin mengetuk hati setiap insane untuk peduli pada keberlanjutan budaya adiluhung yang telah menjadi kesejatian Kota Yogyakarta serta bersama-sama menjaga, melindungi dan melestarikannya agar tetap hidup dan menghidupi masyarakat yang mencintainya. Dengan menjunjung tinggi budaya sendiri, harkat dan martabat bangsa akan terangkat di mata masyarakat internasional. Melalui budaya positif, Negara Indonesia akan menjadi terhormat keberadaannya di dunia.
“…boleh bersikap selalu ramah, Bukanlah berarti bangsa kita murah, Kalau kawan tak hati-hati, bias punah budaya asli, Kalau punah budaya asli, harga diri pada diri tak ada lagi, Maka tak dapat berbangga hati…”
(cuplikan syair “Janger” karya Guruh Soekarno Poetra)
Sumber : Dinas Pariwisata, Seni dan Budaya Kota Yogyakarta.
|
|
Pemutakhiran Terakhir ( Tuesday, 02 February 2010 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Objek wisata, seni, dan budaya yang ada di Pandeglang sangat banyak. Orang-orang yang mengikuti lomba SEO kenali dan kunjungi objek wisata di Pandeglang juga banyak. Satu orang bias menulis tentang kenali dan kunjungi objek wisata di Pandeglang lebih dari satu guna mendukung artikel yang digunakan untuk lomba atau kontes SEO kenali dan kunjungi objek wisata di Pandeglang. Bahkan mereka ada yang menulis artikel sampai lebih dari lima artikel tentang objek wisata di Pandeglang. Sedangkan kondisi saya sekarang baru sedikit artikel yang saya tulis. Artikel yang saya tulis adalah : |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Friday, 23 October 2009 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
Sosialisasi untuk mengenalkan objek wisata dengan kontes SEO ber-keyword "Kenali Dan Kunjungi Objek Wisata Di Pandeglang " lewat internet merupakan langkah cintapandeglang yang bagus, efektif dan efisien. Lewat internet tanpa dilombakan pun sudah bagus, apalagi hal ini dilombakan. Dengan adanya kontes SEO kenali dan kunjungi objek wisata di Pandeglang , maka beramai-ramai orang meng-explore dan mem-publish semua hal tentang pandeglang sesuai yang mereka tahu dan berbagai versi, khususnya objek wisata yang ada di Pandeglang. Bahkan diantara mereka ada yang mem-publish tiga sampai lima artikel.
|
|
Pemutakhiran Terakhir ( Friday, 23 October 2009 )
|
|
Selengkapnya...
|
|
|
Pertama kali ikut kontes kenali dan kunjungi objek wisata di pandeglang, blog kelik erlambang ini jika di cari lewat google dengan keyword "kenali dan kunjungi objek wisata di pandeglang", mendapat urutan pada halaman 24 (dua puluh empat). Jika satu halaman memuat 10 (sepuluh) list, bertarti blog ini mendapat urutan sekitar 240-an (dua ratus empat puluha-an). Seperti yang telah saya tulis sebelumnya, saya mencontek meta tag blog-blog yang dapat urutan satu sampai dengan sepuluh dengan harapan bisa meningkatkan peringkat blog erlambang.com ini. Setelah beberapa hari akhirnya blog saya masuk pada halaman sekitar sebelas sampai lima belas. Posisi ini naik turun. Dalam pikir saya, “wah kenali dan kunjungi objek wisata di pandeglang blog ini sudah maksimal”, jadi kemungkinan tidak akan menang. Suatu hari saya kaget, ketika saya iseng cek kenali dan kunjungi objek wisata di pandeglang, ternyata blog ini masuk di halaman tujuh. Hal ini menjadikan saya melanjutkan lagi untuk meneruskan perjuangan untuk memposisikan kenali dan kunjungi objek wisata di pandeglang blog erlambang.com ini semakin baik di mata google, meski hanya dengan sedikit dukungan, sedikit kemampuan. Perjuangan harus dilanjutkan. Jangan putus asa lagi sebelum waktu selesai. Dengan perjuangan, pasti ilmu akan bertambah, kemampuan akan bertambah, pengalaman pun juga akan bertambah. Meski nantinya kemenangan hanya sebatas harapan, akan tetapi perjuangan kenali dan kunjungi objek wisata di pandeglang harus lanjut dan tetap dilanjutkan... kenali dan kunjungi objek wisata di pandeglang |
|
Pemutakhiran Terakhir ( Friday, 23 October 2009 )
|
|
|
|
Selamat! - Benar-benar sebuah kado is...
tukar link - Mas kelik, linknya juga ...
Blog for Newbie - selamat uda dapet P...
re: Makasih Video Tutorialnya - Kebe...
Tobat tobat,..mau verifikasi ke googl...